BEKASI – Pemerintah Kabupaten Bekasi melalui Dinas Pertanian terus memperkuat langkah mitigasi menghadapi dampak kekeringan yang mulai mengancam sejumlah lahan pertanian. Salah satu upaya yang dilakukan yakni menyalurkan bantuan 83 unit pompa air ke wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air.
Melalui Tim Brigade Alsintan (Alat dan Mesin Pertanian), Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi telah mendistribusikan 13 unit pompa berukuran 6 inci dan 70 unit pompa berukuran 3 inci. Bantuan tersebut ditempatkan di Kecamatan Pebayuran, Cabangbungin, Kedungwaringin, Tambelang, Sukawangi, Setu, dan Muara Gembong.
Pompa dimanfaatkan untuk mengambil air dari sumber yang masih tersedia, termasuk sungai, kemudian dialirkan untuk memenuhi kebutuhan pengairan sawah yang mengalami kekurangan pasokan air.
Langkah mitigasi tersebut dilakukan setelah kondisi kekeringan dilaporkan berdampak terhadap sekitar 1.354 hektare lahan pertanian yang tersebar di 15 kecamatan dan 41 desa di Kabupaten Bekasi.
Mitigasi Dini untuk Lindungi Produksi Padi
Kabid Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Eem Embang, mengatakan penanganan kekeringan perlu dilakukan sedini mungkin agar dampaknya tidak meluas dan mengganggu produktivitas pertanian.
Menurutnya, pemerintah daerah saat ini memprioritaskan penanganan jangka pendek di wilayah yang masuk kategori rawan kekeringan sesuai tugas, fungsi, dan kemampuan anggaran yang tersedia.
“Melakukan mitigasi sejak dini pada wilayah rawan kekeringan dan melakukan penanganan jangka pendek sesuai tugas, fungsi, dan anggaran Dinas Pertanian,” ujar Eem saat ditemui di Kantor Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi, Rabu (19/8/2026).
Eem menyebut hingga saat ini belum terjadi penurunan produksi padi secara signifikan. Namun, berkurangnya debit air untuk mengairi persawahan tetap menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi hasil produksi apabila tidak segera ditangani.
“Di situ pastinya terdampak ada penurunan produksi. Karena sebetulnya dari Kementerian Pertanian kita harus menggenjot luas tambah tanam. Nah, kalau luas tambah tanam terus-menerus harus ditingkatkan, kembali lagi ke kondisi air,” jelasnya.
Bersihkan Saluran Irigasi hingga Koordinasi Lintas Instansi
Selain pompanisasi, Dinas Pertanian melakukan berbagai langkah untuk menjaga kelancaran distribusi air ke lahan pertanian. Salah satunya melalui penanganan jaringan irigasi, termasuk membersihkan saluran dari tanaman pengganggu seperti eceng gondok.
Koordinasi juga dilakukan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Perum Jasa Tirta (PJT) II, serta instansi terkait lainnya guna memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian tetap terjaga.
Dinas Pertanian juga membantu petani memperoleh rekomendasi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi untuk mendukung operasional pompa dan berbagai alat mesin pertanian.
Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi kendala petani dalam memperoleh bahan bakar, khususnya solar, untuk mengoperasikan mesin pompa di wilayah terdampak.
Pemantauan 1.354 Hektare Lahan Terdampak
Pemantauan kondisi lahan dilakukan secara berkala bersama petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT). Data tersebut terus diperbarui untuk mengetahui perkembangan dampak kekeringan sekaligus menentukan wilayah yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
“Pembaruan data terus dilakukan agar respons terhadap lahan yang terdampak kekeringan dapat dilakukan dengan cepat,” kata Eem.
Pendataan menjadi salah satu dasar bagi pemerintah dalam menentukan prioritas distribusi pompa dan langkah penanganan berikutnya.
Normalisasi Jaringan Irigasi Jadi Strategi Jangka Panjang
Untuk penanganan jangka menengah dan panjang, Dinas Pertanian mendorong normalisasi sejumlah jaringan irigasi bersama BBWS.
Beberapa jaringan yang menjadi perhatian antara lain Saluran Sekunder (SS) Balongtua sepanjang 7 kilometer, SS Jagawana sepanjang 10 kilometer, serta Kali Butek sepanjang 1,5 kilometer di wilayah Kecamatan Cabangbungin.
Revitalisasi Kali Butek juga dilakukan pada sejumlah titik dengan panjang masing-masing sekitar 4 kilometer dan 1,5 kilometer. Langkah tersebut ditujukan untuk memperlancar aliran air menuju kawasan pertanian.
Selain itu, Dinas Pertanian bersama Direktorat Jenderal Lahan dan Perlindungan Pertanian Kementerian Pertanian memberikan dukungan anggaran operator untuk kegiatan normalisasi jaringan irigasi di Desa Karangharja, Kecamatan Pebayuran.
Target Produksi Padi Tetap Dijaga
Berbagai langkah tersebut dilakukan untuk menjaga lahan pertanian tetap produktif sekaligus mencegah lahan potensial gagal ditanami akibat kekurangan air.
Dinas Pertanian Kabupaten Bekasi menargetkan produksi padi sekitar 503 ton per musim.
“Target yang ingin kita capai itu 503 ton per musim. Makanya kita coba melakukan penanggulangan dan membantu petani agar jangan sampai lahan-lahan itu tidak tertanami,” tegas Eem.
Sejumlah wilayah masih menjadi sentra produksi padi Kabupaten Bekasi, di antaranya Pebayuran, Sukatani, Sukakarya, Sukawangi, dan Muara Gembong.
Khusus Kecamatan Pebayuran, produksi padi masih tergolong tinggi dengan hasil sekitar 8 hingga 9 ton.
Pompanisasi Didorong untuk Optimalkan Lahan
Di tengah kondisi kekeringan, Dinas Pertanian juga mendorong optimalisasi lahan agar dapat ditanami hingga tiga kali dalam setahun melalui dukungan pompanisasi.
Dengan ketersediaan air yang lebih terjamin, petani diharapkan dapat mempertahankan produktivitas lahan sekaligus mendukung ketahanan dan swasembada pangan di Kabupaten Bekasi.
Tak hanya memastikan lahan tetap produktif, pemerintah juga memantau ketersediaan beras dengan melakukan pendataan stok di sejumlah penggilingan melalui petugas informasi pasar di tingkat kecamatan.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi stok beras tetap terpantau sekaligus menjaga pasokan pangan Kabupaten Bekasi selama ancaman kekeringan masih berlangsung.
Dengan kombinasi pompanisasi, normalisasi irigasi, pemantauan lahan, dukungan BBM, dan pengawasan stok pangan, Pemerintah Kabupaten Bekasi berupaya memastikan kekeringan tidak berkembang menjadi ancaman serius bagi produktivitas pertanian dan ketahanan pangan daerah.










